![]() |
| HRM Khalilur R Abdullah Sahlawiy atau akrab disapa Gus Lilur Owner Bandar Indonesia Grup (BIG). (Foto: Istimewa) |
Puluhan smelter tersebut tersebar di sejumlah provinsi strategis. Maluku Utara menjadi wilayah dengan jumlah smelter terbanyak yakni 18 unit, disusul Sulawesi Tengah sebanyak 17 smelter, Sulawesi Tenggara tiga smelter, serta Sulawesi Selatan satu smelter. Seluruh smelter ini memiliki satu kebutuhan utama yang tidak tergantikan dalam proses produksi, yakni kapur.
Dalam industri pengolahan nikel, kapur memegang peran vital sebagai bahan campuran utama. Tanpa kapur, proses pemurnian dan produksi nikel di smelter tidak dapat berjalan secara optimal. Bahkan dapat dikatakan, tanpa kapur, nikel tidak akan pernah menjadi nikel siap olah sesuai standar industri.
Seiring bertambahnya jumlah smelter, kebutuhan kapur nasional pun meningkat signifikan. Kondisi ini membuka peluang besar bagi sektor pertambangan kapur dalam negeri untuk berperan lebih strategis dalam rantai pasok industri nikel nasional.
Indonesia sendiri memiliki potensi tambang kapur yang sangat melimpah. Banyak lokasi tambang kapur tersebar di berbagai daerah, meskipun sebagian besar berada puluhan kilometer dari garis pantai, sehingga menimbulkan tantangan tersendiri dalam distribusi ke wilayah smelter yang mayoritas berada di kawasan timur Indonesia.
Melihat peluang dan tantangan tersebut, Bandar Indonesia Grup (BIG) mengambil langkah strategis. Perusahaan ini tercatat memiliki sebanyak 275 tambang kapur yang tersebar di Jawa Timur dan Jawa Tengah, menjadikannya salah satu pemilik konsesi kapur terbesar di kawasan tersebut.
Yang menjadi keunggulan utama BIG adalah keberadaan puluhan tambang kapurnya di Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, yang berada tepat di kawasan pesisir laut. Posisi geografis ini dinilai sangat strategis untuk mendukung distribusi kapur ke berbagai wilayah smelter nikel di Indonesia melalui jalur laut.
BIG pun menyatakan kesiapan untuk menjadikan tambang kapur di Sumenep sebagai pusat suplai kapur bagi smelter nikel nasional. Dengan akses langsung ke laut, efisiensi logistik diharapkan dapat ditekan, sehingga harga kapur lebih kompetitif dan pasokan lebih terjamin.
Langkah ini sekaligus menjadi bentuk dukungan BIG terhadap program hilirisasi nikel nasional yang dicanangkan pemerintah. Ketersediaan bahan baku pendukung seperti kapur menjadi faktor penting dalam menjaga keberlanjutan operasional smelter dan daya saing industri nikel Indonesia di pasar global.
Founder dan Owner Bandar Indonesia Grup, HRM. Khalilur R. Abdullah S, menegaskan bahwa komitmen BIG tidak hanya berorientasi bisnis, tetapi juga membawa semangat keadilan sosial. Menurutnya, optimalisasi sumber daya alam harus memberi manfaat sebesar-besarnya bagi rakyat Indonesia.
“Salam Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia,” ujar HRM. Khalilur R. Abdullah S, menutup pernyataannya dengan menegaskan bahwa peran industri nasional harus selaras dengan kepentingan bangsa dan negara.


0 Komentar