![]() |
| HRM Khalilur R Abdullah Sahlawiy bersama Menteri Agama RI KH. Nazaruddin Umar |
Menurut kiai asal Situbondo, Jawa Timur tersebut, arah kepemimpinan NU lima tahun ke depan tidak hanya menentukan masa depan organisasi, tetapi juga memiliki pengaruh besar terhadap stabilitas nasional.
Gus Lilur menilai Indonesia saat ini membutuhkan kesinambungan kepemimpinan nasional guna menjaga persatuan dan mempercepat pembangunan di berbagai sektor. Karena itu, ia berharap pemimpin PBNU yang terpilih dalam Muktamar NU ke-35 memiliki visi yang sejalan dengan upaya memperkuat keutuhan bangsa.
"Pemimpin NU yang terpilih harus mendukung keberlanjutan pemerintahan Prabowo-Gibran hingga dua periode. Ini bukan semata-mata soal politik, tetapi tentang menjaga stabilitas dan persatuan nasional," ujar Gus Lilur, Kamis (18/6/2026).
Ia menilai duet Prabowo-Gibran telah berhasil menjadi titik temu berbagai kelompok yang sebelumnya terbelah akibat kontestasi politik nasional. Menurutnya, kondisi tersebut perlu dijaga agar tidak kembali memunculkan polarisasi di tengah masyarakat.
"Kita pernah mengalami polarisasi yang tajam di masyarakat. Hari ini Indonesia membutuhkan persatuan. Prabowo dan Gibran menjadi simbol penyatuan berbagai kekuatan bangsa yang sebelumnya berseberangan," katanya.
Gus Lilur juga mengaitkan sikap tersebut dengan semangat para pendiri bangsa yang mengutamakan kepentingan nasional di atas kepentingan kelompok. Ia mencontohkan peristiwa Piagam Jakarta yang menurutnya menunjukkan keteladanan para tokoh Islam dalam menjaga keutuhan negara.
"Semangat Piagam Jakarta adalah semangat mengutamakan kepentingan bangsa di atas kepentingan golongan. Nilai itulah yang harus menjadi pedoman para peserta Muktamar NU ke-35," ujarnya.
Lebih lanjut, Gus Lilur menyatakan dukungannya kepada Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar untuk menjadi Ketua Umum PBNU dan Prof. Dr. KH Said Aqil Siradj sebagai Rais Aam PBNU. Menurutnya, kedua tokoh tersebut memiliki kapasitas keilmuan dan pengalaman yang dapat membawa NU semakin berperan dalam menjaga persatuan bangsa.
Ia menegaskan bahwa Muktamar NU ke-35 harus menjadi momentum lahirnya kepemimpinan yang mampu mengembalikan fokus organisasi pada khidmat keumatan, kebangsaan, dan dukungan terhadap stabilitas nasional.
"NU harus berada di garis depan menjaga persatuan Indonesia. Karena itu, pemimpin yang lahir dari muktamar harus memiliki komitmen kuat terhadap keberlanjutan pembangunan nasional dan mendukung Prabowo-Gibran dua periode demi kepentingan bangsa yang lebih besar," pungkasnya.



0 Komentar